The Secret Chapter 1

THE SECRET CHAPER 1

 

 “Noona, kenapa wajah kita tak mirip? Padahal kita saudara.” Lelaki kecil yang tengah memainkan pasir itu bertanya pada gadis mungil disampingnya.

Sang gadis kecil tersenyum. “Siapa bilang kita tak mirip? Kita bahkan bak pinang dibelah dua kata, umma.” Jawabnya.

“Tapi kata orang-orang aku dan noona tak mirip. Bahkan Kyu bilang kau yang harusnya jadi adikku.” Jawabnya, kali ini menghentikan pergerakan tangan di pasir dan mulai tertunduk.

Gadis kecil itu masih tersenyum, perlahan mulai merangkul bahu adiknya erat. “Jangan dengarkan kata mereka. Kita sampai kapanpun tetap bersaudara~” Ujarnya menenangkan.

 

~oOo~

.

The Secret

.

Author : Melani KyuminElfSha

.

Editor : Min Ra Park

.

FanFiction

.

Genre :: Romance, drama, hurt.

.

Rate :: T

 

~oOo~

.

 “…Kita sampai kapanpun tetap bersaudara~”

 

“Cih!”

Saat kilasan balik itu kembali menghantui otak Taeyeon, lelaki itupun kembali berdecih, seolah mengejek ucapan kakaknya saat kecil dulu.

Perlahan Taeyeon memejamkan mata, menengadahkan kepalanya seraya membentangkan tangan dan membiarkan angin di atap sekolah itu menerpa tubuh kurusnya. Taeyeon nyaman dengan itu dan jika sudah di atas sekolah maka ia akan melupakan apapun.

Melupakan apapun? Sepertinya begitu.

Saat tersadar ada sosok lain bersamanya disini membuat Taeyeon tersentak lalu merubah posisi tubuhnya menjadi keposisi semula, memasang gaya angkuhnya dan mulai menatap sosok gadis yang masih tertunduk dihadapannya itu.

“Jadi apa yang ingin kau katakan? Ini sudah lebih dari setengah jam dan istirahat hampir selesai.” Ujar Taeyeon malas.

Sebenarnya Taeyeon tahu apa yang akan gadis gugup itu sampaikan, tapi untuk sekedar menghormatinya, Taeyeon ingin mendengar dahulu apa yang akan gadis itu katakan.

“T- Taeyeon-ssi.” Terdengar jelas kegugupan itu melanda sang gadis, bahkan Taeyeon yakin gadis itu tengah bergetar sekarang, tapi Taeyeon mendiamkan, membiarkan gadis itu berbicara sendiri sampai menemukan keberaniannya.

“Aku sudah lama menyukaimu, sejak kelas pertama dua tahun lalu. Aku mohon jadilah kekasihku.” Gadis itu makin tertunduk, tapi bedanya kali ini membungkukkan tubuhnya hormat, seakan meminta Taeyeon untuk menerimanya.

Taeyeon awalnya memandang remeh akan gadis yang masih enggan menegakkan tubuhnya itu tapi sadar dia akan sangat keterlaluan jika melakukan itu dan kembali membuat hati para gadis sakit. Tidak dipermalukan Taeyeon saja gadis-gadis itu akan lari seraya menangis apa lagi Taeyeon tatap dengan pandangan meremehkan. Taeyeon yakin hati mereka tambah terluka.

“Kau sudah lama menyukaiku ya?” Tanya Taeyeon basa-basi.

“Iya~” Gadis itu menjawab lirih seraya mulai menegakkan tubuhnya, menatap takut-takut akan wajah Taeyeon.

Taeyeon mengangguk beberapa kali seolah mengerti akan pemikiran gadis itu. “Terima kasih selama ini sudah menyukai, mencintai bahkan mengangumi aku. Aku sangat berterima kasih.” Ujar Taeyeon, membuat senyuman tertahan itu tersungging dari bibir sang gadis.

“Tapi aku memang belum ingin berpacaran dan jikapun ingin, aku tak akan memacari perempuan disekitarku bahkan teman satu sekolah.”

Sederhana tapi sangat menusuk di hati gadis itu. Senyuman tertahan tadipun entah sejak kapan hilang dan menguap keudara.

“Maaf~ tapi aku benar-benar tak ingin berpacaran dan otomatis tak bisa menerima cintamu.” Ujar Taeyeon lagi.

Gadis itu masih diam, menatap tak percaya akan Taeyeon.

“Bagaimana jika berteman saja.” Taeyeon tak main-main dengan ajakannya ini. Jika berteman dia akan melakukannya pada siapapun.

“Ah~” Gadis itu tersadar dan perlahan kembali menunduk. “Teman ya?” Tanya gadis itu lirih.

“Iya. Kau tak mau?” Tanya Taeyeon. Jika gadis itu tak mau ya Taeyeon tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Gadis itu perlahan menggeleng dan kembali menegakkan kepalanya. “Aku mau.” Ujarnya seraya tersenyum manis pada Taeyeon. “Terima kasih sudah sudi mengajakku berteman.” Gadis itu kembali membungkuk hormat dan kali ini Taeyeon mengikuti tingkah gadis itu.

“Terima kasih juga sudah menyukaiku.” Ujar Taeyeon.

***

Taeyeon sampai di kelasnya bertepatan dengan bel masuk berbunyi. Jika seandainya Taeyeon terlambatpun guru di sekolah ini tak akan ada yang berani menegurnya. Lelaki itu sejak taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas terus disegani penduduk sekolah karena berstatus cucu kandung sang pemilik sekolah.

Taeyeon patut bangga dan bermalas-malasan akan itu, tapi sepertinya otak lelaki itu masih bisa digunakan untuk berpikir waras. Lelaki itu memang egois, tapi jika menyangkut belajar dia bisa dikatakan jenius. Itu poin khusus yang membuat penduduk sekolah menyeganinya. Bahkan Taeyeon belum pernah sedikitpun melanggar aturan sekolah. Mungkin hanya hal kecil saja dan tak menganggu peraturan itu sendiri.

“WOW. Pangeran kita sudah datang.” Sambutan dari Sooyoung membuat kelas yang tadinya sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri mendadak mengalihkan tatapan pada pintu kelas, tepat akan Taeyeon yang baru menginjakkan kakinya disana.

Taeyeon menggelengkan kepalanya seraya mulai berjalan mendekati kursi, tepat disamping Sooyoung.

“Bagaimana? Apa gadis ke seratus tiga puluh enam itu menembakmu lagi?” Tanya Sooyoung bersemangat.

Taeyeon mengerutkan dahi dan menatap Sooyoung heran. “Seratus tiga puluh enam? Kau hebat sekali bisa menghitungnya.” Ujar Taeyeon. “Darimana kau tahu semua itu?” Sambung Taeyeon lagi.

“Tak penting. Sekarang katakan saja apa gadis itu menyatakan cintanya padamu dan kembali kau tolak?” Tanya Sooyoung.

Taeyeon memutar bola matanya malas lalu mulai mengeluarkan buku dari tasnya. “Kali ini aku bersikap sopan dan mengajaknya berteman. Sepertinya dia tak keberatan.” Jawab Taeyeon.

“Wah! Kalian dengar? Pangeran yang sering menolak ini sudah berubah menjadi sopan.” Ujar Sooyoung pada teman-teman sekelasnya dan sontak tepuk tangan mewarnai suasana itu.

Aish! Bisakah kalian tenang? Sebentar lagi guru Han datang dan bersiaplah kalian menerima hukumannya.” Ujar Taeyeon dan tentu saja tepuk tangan riuh tadi terhenti, berganti dengan tatapan lekat mereka untuk Taeyeon, termasuk Sooyoung.

“Kenapa? Apa kalian tak takut dengan guru Han?” Tanya Taeyeon heran.

“Kau tak tahu?” Tanya balik Sooyoung.

“Apa?” Taeyeon kembali bertanya.

“Guru Han dipindah tugaskan.” Celetuk salah satu teman sekelas Taeyeon.

“APA?” Tanya Taeyeon kaget.

“Benar Taeng. Kita harus berpesta untuk ini.” Ujar Sooyoung.

Taeyeon mengerutkan dahi mendengar ucapan itu. “Kenapa tak ada yang memberitahuku akan ini?” Lirih Taeyeon.

“Apa ada guru baru yang akan menggantikannya?” Tanya Taeyeon, karena sepengetahuannya tak ada yang berani memegang dan menjadi wali kelas XII-1, kelasnya sejak dulu kecuali guru Han itu sendiri.

“Sepertinya ada.” Ketua kelas XII-1 menjawab seraya membenarkan letak kacamatanya. “Tadi aku diberitahu pihak sekolah jika akan ada guru pengganti, tapi tak diberitahu siapa.” Sambungnya.

“Aku dengar-dengar dia masih gadis. Tak seperti guru Han yang cerewet, perawan tua dan galak itu. Ini masih sangat mulus.” Kembali komentar itu terdengar dari salah satu teman Taeyeon.

“Darimana kau tahu? Bahkan aku yang ketua kelas saja tak tahu.” Ketua kelas itu memandang protes pada lelaki yang tadi bergumam.

“Tenang saja. Semua info dari mulut Leeteuk itu akurat.” Timpal seorang gadis yang duduk tepat disamping lelaki lancang tadi.

“Hmm… guru muda ya?” Tanya Taeyeon seraya menimbang-nimbang. Entah bagaimana ceritanya lelaki itu malah melamunkan sesuatu sampai membuatnya terdiam beberapa saat.

Sooyoung mengerutkan dahi melihatnya. “Untuk guru baru itu~ apa kau mau mengusulkan ide penyambutan untuknya?”

“Eh?” Taeyeon yang tersadar akan ucapan Sooyoung segera menatap lelaki itu. “Maksudmu?”

“Penyambutan Taeng.” Ulang yang lain.

“Penyambutan yang penuh dengan sesuatu ketakjuban dan yakin jika guru muda itu akan berkesan.” Sambung yang lain.

“Bagaimana Taeng?” Sooyoung tersenyum seolah meminta dukungan Taeyeon. Bagaimanapun acara ‘penyambutan’ itu akan sukses jika Taeyeon menyetujuinya walau tak ikut bekerja.

Taeyeon tampak berpikir sesaat. Sebenarnya dia enggan, sangat enggan bermain-main seperti ini mengingat sebentar lagi mereka lulus sekolah, tapi bukankah ini akan menjadi kenangan indah sekaligus gilanya bersama teman-teman? Bagaimanapun berbuat gila diujung masa sekolah menyenangkan juga.

Taeyeon tersenyum sekilas sebelum mengangguk. “Cari ember, air, telur beserta tepungnya.” Ujar Taeyeon memerintah.

YES!!” Semua yang ada disana bersorak gembira dan mulai berhamburan keluar kelas.

“Hahaha. Aku tak bisa membayangkan sosok muda dan cantik itu mendapati salam hangat kita.” Ujar Sooyoung.

Taeyeon tersenyum dan membuka buku paket Fisikanya, membiarkan teman sekelasnya bekerja sendiri.

“Berikan aku PSPmu Tae. Disini membosankan.” Ujar Sooyoung.

“Ambil saja.” Jawab Taeyeon tanpa mengalihkan tatapannya dari buku paket Fisika itu, dan Sooyoung segera mengambilnya, ikut bersantai seraya menunggu teman-temannya selesai dengan kejutan mereka.

***

Gadis mungil yang masih terlihat sangat muda itu duduk tenang seraya menatap kepala sekolah yang tengah membaca kertas biodata miliknya.

“Ehem.” Gadis itu pura-pura terbatuk agar kepala sekolah tadi menghentikan ulahnya. Sudah hampir satu jam kepala sekolah itu meneliti kertas biodatanya dan menurut sang gadis itu perbuatan yang menakjubkan.

Sang kepala sekolah tersadar dan mulai menurunkan kertas yang sejak tadi ia naikkan sampai menutupi wajahnya, meletakkan diatas meja.

“Ehem.” Kepala sekolah yang tak terlalu tua bahkan sangat berwibawa itu sedikit membersihkan tenggorokannya dan menatap Tiffany lekat.

“Maaf pak, tapi bel masuk sudah berdering sejak satu jam yang lalu. Bukankah sebaiknya saya masuk dan menyapa mereka?” Tanya Tiffany hati-hati.

Kepala sekolah itu mengerutkan dahi. “Biodatamu.” Ujarnya dengan raut wajah serius.

“Iya? Kenpaa dengan biodata saya pak?” Tanya Tiffany kaget.

“Kenapa kau tak mencantumkan… nama mertuamu?” Pertanyaan lelucon itu muncul bersamaan dengan berubahnya mimik muka sang kepala sekolah dari serius menjadi tersenyum konyol, membuat Tiffany membulatkan matanya mendengar candaan itu.

YA! Hentikan itu appa.” Tegur Tiffany seraya mengembungkan kedua pipinya pertanya kesal.

Kepala sekolah itu hanya terkekeh seraya memasukkan lagi lembar biodata Tiffany kedalam map yang tadi dibawanya. “Kerja yang baik ya? Disini yang diterima hanya kau, jadi jangan buat malu Universitasmu.” Nasehat kepala sekolah.

“Iya appa. Aku mengerti dan akan aku ingat sampai mati ucapan appa.” Jawab Tiffany seraya tersenyum manis.

Kepala sekolah itu balas tersenyum. “Appa tahu dan tak dinasehatkanpun appa tahu kau akan melakukan yang terbaik.” Ujarnya. “Pergilah, sapa siswamu. Jangan lupakan senyuman manis andalanmu kau sunggingkan agar mereka semua patuh padamu.” Sambung kepala sekolah.

Aish!! Appa ada-ada saja.” Tiffany tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Appa tak ingin melihat nilai akademikku? Hanya biodata saja?” Tanya Tiffany heran.

Sang kepala sekolah tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Appa lebih tahu bagaimana nilai akademik anak appa ketimbang orang lain. Jika appa tak tahu, tak mungkin appa memperjuangkan akselerasi padamu, bukan?” Tanya kepala sekolah itu.

Aish! Appa terlalu memujiku.” Ujar Tiffany sedikit malu. Perlahan gadis itu mulai beranjak dari duduk. “Jadi dimana kelasku?” Tanya Tiffany.

“Akan appa antark—“

“Tak perlu appa.” Tiffany segera menjawab sebelum sosok yang dihormati itu berdiri dari duduknya.

“Kenapa?” Tanya sang kepala sekolah.

Tiffany tersenyum dan menggeleng. “Katakan saja dimana? Nanti aku yang akan mencarinya sendiri.” Jawab Tiffanny.

Aish! Kau ini masih saja sok tak ingin dimanja.” Jawab sang kepala sekolah pasrah. “Kelas yang paling berbeda diantara yang lain, diujung lorong ini. Kau sapa siswanya yang ada disana.” Ujar sang kepala sekolah.

“Baiklah.” Tiffany menyambar tasnya dan mulai membungkuk. “Saya pergi, pak.” Ujarnya seraya menegakkan tubuh. Tiffany dengan perlahan membalikkan tubuh dan mulai berjalan keluar dari ruangan kepala sekolah itu.

Sang kepala sekolah hanya diam seraya menatap punggung Tiffany sampai punggung itu menghilang dibalik pintu ruangannya. “Masih saja tak ingin dimanja~” Lirih sang kepala sekolah. “Padahal aku ingin membanggakannya pada penduduk sekolah. Aish!” Ujarnya lagi.

***

Taeyeon masih fokus akan buku paket yang sejak tadi disantap olehnya sementara Sooyoung juga masih tenggelam dalam layar PSP hitam itu.

Berbeda dengan teman sekelasnya, mereka sibuk menatap pintu kelas yang tertutup dan berharap guru pengganti itu segera datang, membuka pintu dan BANG! Tawaan akan mereka perdengarkan dengan tulus.

“Apa tak ada yang datang satupun?” Salah satu dari mereka mendesah kecewa dan sedikit membanting buku yang sejak tadi ia gunakan sebagai kedok.

“Bagaimana jika informasi guru cantik dan muda itu salah? Berganti dengan guru galak dan menakutkan malah melebihi galaknya guru Han?” Sang ketua kelas bergidik ngeri mendengar ucapannya barusan.

Mata seisi kelas kecuali milik Taeyeon dan Sooyoung menatap tajam akan ketua kelas itu. “Kau terlalu takut teman. Bahkan jika benarpun ada Taeyeon yang membantu kita. Benar kan?” Salah satu dari mereka menatap Taeyeon yang masih seperti tak ingin diganggu itu.

Taeyeon sedikit tersenyum mendengar pertanyaan teman sekelasnya, dengan perlahan Taeyeon menutup buku paket dan mengedarkan pandangan. “Siapa bilang?” Ujarnya datar.

Ya~ Kim Taeyeon …” Protesan segera terdengar dari mulut mereka, tak terima dipermainkan Taeyeon begitu.

Taeyeon makin tersenyum mendengar rengekan seperti bayi itu. “Kenapa harus aku?” Tanya Taeyeon lagi.

Ya~ kau yang menjadi penolong kami, jangan lari dari tanggung jawab begini.” Ujar yang lain.

“Tanggung jawabku?” Taeyeon mengeluarkan seringaiannya sekilas. “Kalian yang melakukannya. Aku hanya mengatakan tapi kalian main menurutinya saja.” Sepertinya Taeyeon benar-benar ingin bermain sekarang.

YA Kim Taeyeon Jangan bermain-main lagi.” Protesan itu terus terdengar, makin membuat Taeyeon tersenyum puas.

Sementara Sooyoung hanya menggelengkan kepalanya prihatin atas tingkah anak satu itu.

“Kita ambil saja jebakannya. Gagalkan rencana ini, mudah bukan?” Saran salah satu dari mereka seraya mulai berdiri dari duduk, berniat melangkah mendekati pintu tapi urung saat mendengar bunyi derap langkah diujung lorong sana.

Sekolah mereka jika sedang mengalami proses belajar mengajar memang sepi begini, jadi akan sangat jelas terdengar derap langkah kaki walau masih di ujung lorong.

“Mati kita.” Yang tadi berniat melangkah mendekati pintu dan mengambil semua disana kembali duduk dan menatap was-was akan pintu tersebut.

Taeyeon tersenyum seraya kembali membuka buku paketnya. “Nikmati saja dan siapkan tawa kalian.” Ujar Taeyeon sebelum kembali tenggelam dalam bacaannya, mempelajari rumus fisika.

Sooyoung yang mendengar itu hanya bisa menatap Taeyeon heran seraya mulai mematikan benda persegi hitam itu, meletakkan kembali ke tas Taeyeon dan kali ini menatap pintu, tak ingin terlewat adegan sekecil apapun dari pintu itu.

“Mulai berhitung mundur.” Seru Sooyoung saat sudah mendengar jelas derap langkah kaki itu didekat kelasnya.

“Tiga…” Spontan seisi kelas berhitung mundur dan fokus akan pintu tersebut.

“Dua..”

Tap

Tap

Tap

“Satu..”

Tap

Langkah kaki itu terhenti dan terdengar knop pintu ditekan.

“Kau tak mau melihatnya?” Bisik Sooyoung pada Taeyeon.

“Hm..” Taeyeon hanya bergumam sebelum menutup buku paketnya.

Cklek

Pintu itu di dorong perlahan dan saat kaki sosok itu melangkah masuk—

Byur

Plok

Sreet

Air, telur -entah berapa buah-, tepung dan bahkan guntingan kertas kecil-kecil itu tepat mengenai kepala sosok yang tadi membuka pintu.

Pakaian modis yang ia kenakan hancur sudah, berganti dengan bau amis yang disebabkan telur itu serta berantakan disana-sini.

Sosok itu terdiam, begitu juga seisi kelas.

“HAHAHA.” Tawaan pertama kali meluncur dan memicu tawaan yang lain.

Sosok itu, Tiffany mengenggam knop pintu dengan kuat seraya mulai menatap sekitar, tak terima diperlakukan begini oleh siswanya.

Kepalanya sangat berat ditegakkan karena tumpukan telur dan tepung itu menumpuk disana.

Terus saja tawaan itu terdengar dan Tiffany kembali kaget saat matanya menatap sosok yang sejak tadi menatapnya tanpa tawaan.

Sosok itu, Taeyeon awalnya diam seraya menatap malas akan sosok yang sudah menjadi monster telur dan tepung, tapi saat sedikit mengenal sosok itu, Taeyeon membulatkan mata dan duduk dengan benar, sangat kaget.

Tiffany masih menatap Taeyeon sampai kesadarannya menghentikan keterkejutan itu dan Tiffany lebih memilih meninggalkan kelas, berlari sebisa mungkin dari sana.

“Waah! Guru muda itu manis juga. Sayang kita terlalu gegabah membuatnya jadi monster.” Komentar salah satu dari mereka saat sudah bisa meredam tawaanya.

“Benar! Manis sekali walau sudah babak belur dengan tepung dan telur. Bagaimana menurutmu Taeng?” Tanya Sooyoung.

“Ah~” Taeyeon tersadar dan memasang lagi sikap dinginnya. “Menurutku biasa saja.” Ujar Taeyeon.

***

(. . . .)

About these ads

97 thoughts on “The Secret Chapter 1

  1. Slam kenal thor readr bru dsni :D
    wis taeng dingin amat jd namja tp cocok jg krakternya ;) ppany ksian amat pdhal udah smngat 45 buat ngjar tp mlah kena gyuran dsar anak zman skrang -_- #plak
    Ada hbungan apkah diantra taeny tau jgn2 mreka pnya rhasia nih #manggut2aladetectiveconan
    Critanya bgus thor izin bca lnjutnya ya :D #bow

  2. halo author saya reader baru disini *bow* izinin sy baca cerita2 author ya :) nanti sy bakalan komen kok ^^ ohiya part 1 nya seru thor sebenernya ada hub apa taeyeon sm tiffany? makin penasaran hehe sy lanjut bc part selanjut nya thank youu^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s